Denpasar (ANTARA News) – Sekitar 30 umat Hindu kerasukan saat mengikuti rangkaian ritual tradisi “Ngerebong” di Pura Pangrebongan, Desa Pakraman Kesiman, Denpasar, Minggu.
Tradisi unik itu dilaksanakan setiap delapan hari setelah Hari Raya Kuningan atau berdasarkan penanggalan kalender Bali yakni pada Redite Pon Wuku Medangsia.
“Tradisi ini berlangsung setiap enam bulan sekali. Kata ngerebong artinya berkumpul. Saat ini dipercaya hari di mana berkumpulnya para dewa,” kata Nyoman Artha salah seorang umat yang mengikuti tradisi tersebut.
Dia menjelaskan, sebelum tradisi dilaksanakan umat melakukan persembahyangan yang dilaksanakan dari siang hari sampai menjelang ritual tersebut digelar.
Biasanya, lanjut Artha, umat membeludak sampai ribuan orang yang datang dari seluruh Desa Kesiman dan daerah sekitarnya bahkan sampai luar Denpasar.
Puncak acara dari tradisi Ngerebong ini ditandai dengan penyisiran jalan oleh pecalang atau polisi adat setempat. Kemudian umat keluar dari pura untuk melanjutkan ritualnya dengan mengelilingi wantilan yang ramai oleh adu ayam sebanyak tiga kali putaran.
Pada saat mengitari tempat itu puluhan umat yang disebut pemedak mengalami kesurupan dengan berteriak, menggeram, menangis sambil menari diiringi alunan musik tradisional.
Selama kerasukan mereka melakukan tindakan berbahaya yakni menghujamkan keris di dada, leher bahkan ubun-ubun, amun anehnya tidak satupun yang terluka.
Aksi yang dilakukan oleh umat yang kesurupan itu dinamakan “ngurek”. Konon mengapa pemedek tadi tidak berdarah meskipun telah dihujamkan keris berkali-kali karena adanya kekuatan magis dari roh yang menguasai mereka.
Menurut Artha, makna dari ritual tersebut adalah sebagai cara dalam menyeimbangkan dan menjaga keharmonisan antara dunia nyata dengan yang tidak nyata.(ANT)
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com
Source:
